Perempuan dan Geliat e-Commerce di Indonesia

ecommerce

Jumlah pengguna internet dan penetrasi penggunaan smartphone dengan akses internet yang terus meningkat memberikan efek positif pada nilai transaksi e-commerce di Indonesia. Yang menarik, perempuan memiliki peran besar dalam pertumbuhan industri e-commerce. Menurut Wall Street Journal, sekitar 40 juta perempuan di Indonesia merupakan pengguna internet. Dengan total sekitar 54%, mayoritas konsumen e-commerce adalah perempuan. Setengah dari mereka adalah perempuan dengan usia 20-29 tahun.

Kebutuhan untuk berjejaring sosial dan konten hiburan menjadi alasan mula bagi para perempuan di Indonesia untuk mengakses internet. Mulai dari berbagi foto di media sosial, bertukar informasi melalui aplikasi online messenger, mengunggah video tutorial di YouTube, hingga mengulas produk dan jasa melalui forum online. Di Indonesia, media sosial seperti Instagram dan Facebook turut menjembatani perempuan untuk memulai kebiasaan berbelanja secara online.

Media sosial memberikan keuntungan bagi para pembelanja online untuk mendapatkan pengalaman belanja yang lebih bersifat personal. Mereka dapat terhubung langsung dengan penjual, baik melalui fasilitas kolom komentar one-to-all, maupun melalui fasilitas live chat yang memberi kesempatan untuk berinteraksi secara one-to-one.

Tak ayal, melalui internet perempuan turut menyumbang pengaruh besar dalam menentukan tingkat kepuasan terhadap produk dan jasa, engagement terhadap merek, hingga memengaruhi perempuan lainnya dalam berbelanja. Female Daily, salah satu forum online terbesar di Indonesia yang menargetkan audiens perempuan, menyebutkan 65% perempuan di Indonesia merupakan pengambil keputusan dalam pembelian. Informasi yang didapat melalui peer-circle atau lingkaran pertemanan terdekat, diikuti oleh media online dan blog, memberikan pengaruh terbesar bagi perempuan dalam keputusan pembelian.

FEmalre

Dalam survei yang dilakukan oleh Female Daily tersebut pula, kategori kecantikan masih menjadi isu yang paling banyak dibahas dalam forum online. Sejalan dengan fakta tersebut, 80% perempuan di Indonesia lebih tertarik untuk membeli produk kecantikan secara online. Google mencatat 72% pembelian produk kecantikan dan personal care dilakukan secara mobile shopping; 32% sisanya, transaksi online dilakukan dengan menggunakan desktop. Selain produk kecantikan, perempuan juga berbelanja produk fashion dan aksesori, makanan dan minuman, hingga kebutuhan bayi dan anak. Tidak hanya kebutuhan untuk diri sendiri, mayoritas perempuan juga berbelanja kebutuhan keluarga mereka sehari-hari secara online.

google

Sejalan dengan tren global dan kebutuhan akan pengalaman belanja yang lebih personal, user experience design dan navigasi dalam aplikasi/website belanja online semakin dikembangkan guna menjawab hal tersebut. Sale stock, salah satu startup e-commerce di Indonesia yang menargetkan perempuan usia muda, misalnya, mengakomodasi kebiasaan belanja perempuan ini melalui fasilitas live chat yang canggih. Sale Stock meluncurkan layanan chatbot yang dapat menjalankan percakapan secara otomatis.

Tidak hanya menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan seperti ketersediaan barang, pilihan ukuran, atau pilihan pembayaran, chatbot tersebut bahkan dapat melayani calon pembeli hingga transaksi berhasil diselesaikan. Untuk menghindari nuansa percakapan yang kaku seperti dengan mesin, Sale Stock mendesain nuansa percakapan seperti halnya dua orang perempuan yang sedang mengobrol. Calon pembeli dapat melakukan tanya-jawab dengan Soraya, sebuah program kecerdasan artifisial (artificial intelligence) yang dijalankan pada chatbot.

Begitu pula perihal penggunaan aplikasi mobile dalam berbelanja online. Google mengestimasi 66% dari total pengguna smartphone di Indonesia menggunakan aplikasi mobile, sedangkan 34% sisanya mengakses situs belanja melalui desktop. Melalui aplikasi dan website, pengalaman “window shopping” dapat tergantikan oleh aktivitas browsing dengan kemudahan navigasi online yang disesuaikan dengan kategori produk

FEmale 3

Referensi dalam menentukan pilihan produk juga lebih mudah didapat, melalui opsi rekomendasi yang disesuaikan berdasarkan karakteristik pilihan produk yang diidamkan (wish list), atau produk-produk yang pernah diakses sebelumnya. Pilihan pembayaran yang beragam dan tawaran promosi seperti kode diskon juga menjadi pemikat perempuan dalam berbelanja online. Tak ketinggalan, fasilitas ongkos kirim gratis sering kali dianggap sebagai nilai tambah dalam menentukan situs atau aplikasi e-commerce yang akan digunakan.

Di masa depan, diprediksi peran perempuan dalam pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia akan semakin kuat. Jumlah
wirausaha perempuan yang meningkat menjadi 14,3 juta, ditambah partisipasi perempuan dalam angkatan kerja yang naik menjadi 55,04% di tahun 2016— dan akan terus meningkat pada beberapa tahun mendatang. Hal ini akan berperan positif dalam peningkatan pendapatan disposable perempuan di Indonesia. Pola konsumsi pribadi dan rumah tangga yang mayoritas pengambilan keputusan dalam pembelian berada di tangan perempuan, akan menjadi peluang besar bagi pelaku e-commerce untuk lebih gencar melakukan penetrasi pasar.

Harga yang terjangkau dan tawaran diskon masih akan menjadi pertimbangan utama perempuan dalam berbelanja online. Namun, untuk meningkatkan frekuensi dan nilai transaksi, kenyamanan dan kepuasan dalam berbelanja online menjadi faktor yang tak  kalah penting. Kemudahan dalam pembayaran dan kecepatan respons dalam menyelesaikan masalah juga menjadi nilai tambah dalam kepuasan berbelanja online.

Pelaku e-commerce di Indonesia yang menargetkan perempuan harus mulai berinovasi untuk meningkatkan interaksi dan pengalaman bertransaksi online yang lebih erat dengan kebutuhan dan pola perilaku perempuan di Indonesia dalam berbelanja. Pengembangan aplikasi belanja mobile berbasis user experience melalui riset pasar bisa menjadi pilihan yang tepat untuk lebih memahami profil dan perilaku target dalam berbelanja online.

Septyani Primanita, Qualitative Researcher – Kantar TNS Indonesia

Leave a Reply